Kisah 3 Babi….( Babi Bijak)

babibabi1Berawal dari merenungkan kata-kata bijak “perlukah kita kecewa ketika kita berinvestasi ato menanamkan saham dengan kerja keras dan semangat untuk mendapat hasil yang lebih baik, dan ternyata hasil yang lebih baik didapatkan dari orang lain dengan usaha yang kurang dari usaha kita?

Seberapa keraskah usaha kita untuk mendapat hasil yang ingin kita capai? Apakah dalam kita bekerja, kita harus menyesuaikan dengan apa yang kita terima?

Ataukah kita mau bekerja lebih tanpa melihat dari apa yang kita terima? Kalau ya kenapa?

Selagi browsing2 didunia maya..eh, ketemulah dengan tulisan yang unik yang ditulis oleh Mas Donny BU, kisah tentang tiga Babi, Kayaknya sih …atau lebih tepatnya sepertinya bisa menjawab dari pertanyaan2 diatas..


Ceritanya begini.. Mas Donny berkisah tentang 3 ekor babi ( disney kartun )dimana babi yang sulung adalah babi yang bersifat pekerja keras yang tidak ingin waktunya terbuang sia2 untuk hal yang kurang penting, babi yang kedua dan bungsu lebih banyak menggunakan waktunya untuk bermain dan bersenang2. Suatu saat mereka harus hidup membangun rumah sendiri, dimana babi sulung karena dia adalah type pekerja keras maka dia tidak mau sembarangan dalam membangun rumah, dibangunlah rumah dengan bahan bata semen, sedangkan babi kedua dan bungsu, karena mereka suka meluangkan waktu untuk bersenang senang dan ketika melakukan kerja hanya waktu sesaat saja, mereka membangun rumah dengan bahan kayu dan si bungsu dengan bahan jerami.

Sigkat cerita datanglah seekor serigala besar yang ingin memakan ketiga babi tersebut, babi2 itu bersembunyi di rumahnya masing2. bisa ditebak rumah babi kedua dan bungsulah yang mudah untuk dihancurkan hingga mereka lari terbirit2 ke babi sulung minta perlindungan. Finally babi sulung bisa melindungi adik2nya dan ketiganya bisa bernyanyi bersama2 dalam rumah yang aman dari srigala.

Menuru mas donny Pesan Moral dari cerita di tersebut ….

1).
apakah kita ingin memiliki sesuatu hanya karena “yang penting ada” (pas bandrol), ataukah kita ingin berbuat sesuatu, bekerja, berkarya yang lebih baik? kalau ingin pas bandrol, ya sudah. jadilah babi yang yang membangun rumahnya dari jerami, sambil bermain dan santai. pada saat “serigala” datang, kira2 siapakah yang akan lebih siap? apakah mereka yang bekerja pas bandrol, ataukah yang ikhlas berkeringat? misalnya ada peluang karir lebih bagus, siapakah yang akan lebih mungkin terpilih?

ketika perlu ada pemangkasan (just in case), karyawan seperti apakah yang kemungkinan besar masuk dalam daftar? jadi, masing-masing dari kita punya “serigala”, apakah itu sifatnya peluang ataupun ancaman! ketika “serigala” itu datang, apakah anda berada dalam posisi yang siap? siap aman (dan maju) atau siap diterkam (dan mati)?

2).
perlukah kita iri dengan rekan kerja yang kerja secukupnya dan (terkesan) lebih santai dari kita? pertanyaannya, apakah anda mau jadi pihak yang di suatu saat nanti menjadi tempat orang dapat meminta tolong, ataukah justru cukup puas jadi orang yang selalu bergantung pada orang lain.

jangan berharap rekan kerja kita 100% akan menjadi serajin diri kita. janganlah kemudian kita terus-terusan sibuk mengorek-ngorek kerajinan seseorang, ataupun kemalasannya. siapa tahu, orang tersebut sudah memilih unuk berinvestasi lebih maju

3).
anda yang sudah nonton film
wanted yang dibintangi angelina jolie, pasti paham bahwa di awal kisah ada seorang pegawai kantoran biasa yang hidupnya biasa saja dengan karir yang biasa saja. bahkan, karyawan tersebut menggunakan google untuk mencari ‘eksistensi’ dirinya (ataupun karyanya) di internet, dan hasilnya nihil. bagaimana mungkin, kita bisa eksis ketika kita hidup sesuai dengan takaran orang-orang normal (common people)? kita harus berani menggeser target tujuan hidup kita dan cara kita berkarya. janganlah mendadak kita ingin eksis di populasi yang sangat besar. buatlah secara bertahap.

misalnya, mulailah dengan pertanyaan, apakah diri dan karya kita sudah eksis (diakui, ditunggu, dibutuhkan) di lingkungan tim internal kita? bagaimana dengan di divisi/group kita? lalu kalau sudah tercapai, tingkatkan. bagaimana di level kantor? di level industri sejenis? di level komunitas / masyarakat? dan seterusnya. selangkah demi selangkah, tentukan target eksistensi kita, dan janganlah menjadi orang-orang “normal” yang hidup “bagaimana ntar sajalah!”.

4).
problem kemudian muncul ketika kita mulai menghitung-hitung rupiah yang masuk dibandingkan keringat yang keluar. jadi apakah dengan demikian lebih baik kita kerja pas bandrol saja? kalau saya, sudut pandangnya lebih baik diubah. ok, kita dibayar untuk kerja hingga mendapatkan hasil sekian, alias pas bandrol. tetapi apakah kita tidak ingin berinvestasi atas pengalaman dan mengasah kemampuan, dengan melakukan pekerjaan di atas bandrol (yang tentunya untuk kepentingan kantor) dengan fasilitas kantor?

walau kantor akan mendapatkan hasil keringat kita, tetapi di sisi lain, kantor sebenarnya memberikan fasilitas gratis bagi kita untuk berinvestasi pengalaman dan kemampuan (kalau kita mau!). kalau akhirnya kita mendapatkan reward atas pekerjaan kita yang di atas bandrol tadi, itu berarti rejeki (yang sudah ada takarannya dari yang di atas) berarti sudah saatnya turun. kalau belum, maka teruslah ber-investasi! ingat, “serigala” datangnya tanpa diundang, alias dadakan. siapkah anda? siap aman (dan maju) atau siap diterkam (dan mati)?

simpulannya:

selama anda berkeluh kesah atas beban kerja yang tidak imbang antara anda dan rekan anda, tidak imbang antara harga bandrol dengan keringat, dan keluhan-keluhan lainnya, maka anda tidak akan dapat melihat sisi lain dari kebajikan-kebajikan yang selama ini telah anda investasikan untuk masa depan anda )

Tulisan ini ditulis oleh Doni BU ( detikinet/ictWatch). Semoga menjadi pencerahan bagi kita untuk terus berinvestasi dalam bekerja dan memberikan ilmu …..

2 Tanggapan

  1. kesimpulan yang patut untuk kita pikirkan dan laksanakan ya Rif …. ?

    • trim bu yanthie…..
      selalu ingatkan kita untuk bekerja lebih keras lagi..
      jangan sungkan2 untuk memarahi saya jika saya cemen dan mudah purus asa…

      hehheh sukses juga ya bu’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: